Aku bukan bicara keabadian. Tapi angin yang menyusup dua celah mataku. Bukan lagi sajak-sajak yang bercerita kepalsuan. Tapi angin itu berbisik : keabadian. Aku lewati lorong-lorong sempit bernama benci. Kususuri begitu banyak tanah-tanah cinta. Pekarangan melompong yang hanya tertanam angin-angin yang tersenyum duka. Angin-angin yang takkan pernah tumbuh dalam lorong-lorong kedengkian. Dan selamanya matahari tak pernah terang dalam hatinya. Gelap takkan berlalu dan aku hanya bisa tergugu.
Menatap angin yang menyusup dua celah mataku.
TRUTH IS OVER. AND NEVER BE COME.
WITHOUT
A SACRED.
WHICH MISSED BY SOUL.
WHO MISS.
TRUTH : a destiny.
find your land, truth.
Plant your wind there.
I’LL BE ONE OF WHO.
I’LL NEVER LET your sad smile, GROW in your land.
Sampai semua bukanlah kesia-siaan. Sampai daging-daging busuk menuai tangis dari apapun yang tertanam. Dan angin bersinar tumbuh mekar dalam jiwa-jiwa yang pernah luka. Menjadi emas dan permata di atas kembang perindu.
Mungkin memang bukan abadi.
Tapi itu pasti.
Kan aku lihat angin itu bertumbuh.
Dan angin tumbuh mekar dalam jiwa-jiwa yang
pernah. LUKA.
Maghfira alv,
Prenduan,25 oktober 2010.